MEMBUAT APLIKASI ACCESS ATAU WEB?

Oleh: Haer Talib

Ketika seseorang ingin membuat aplikasi database, pertanyaannya sekarang adalah: apakah membuat aplikasi berbasis desktop ataukah berbasis web?

"Untuk apa membuat aplikasi desktop, sekarang zamannya aplikasi web", kira-kira seperti itu statementnya.

Aplikasi web adalah aplikasi yang diakses atau dibuka/dijalankan menggunakan web browser. Umumnya aplikasi web diakses melalui Internet, sehingga bisa dibuka dimana saja dan kapan saja. User tidak perlu menginstall apa-apa di komputernya, cukup memiliki koneksi ke Internet, maka aplikasi web sudah bisa dibuka. Mau memasukkan data bisa, mau mengecek informasi bisa. Bahkan aplikasi web bisa dibuka di berbagai device dan platform. Jadi, kenapa masih membuat aplikasi berbasis desktop?


Jika melihat dari fleksibilitas di atas, tentu semua orang akan memilih membuat atau membeli dan menggunakan aplikasi web saja.


Tetapi kenyataannya tidaklah semudah dan seindah harapan.

  1. Membuat aplikasi berbasis web tidaklah gampang. Banyak sekali hal yang harus dipertimbangkan dan harus dikuasai, sehingga aplikasi web yang bagus pasti berharga lebih mahal dari aplikasi desktop. Perhitungan saya dari pengalaman selama ini, biaya pembuatannya bisa 4 x lebih MAHAL! Istilah "bagus" dalam hal ini bukan hanya tampilan atau disainnya, tetapi juga dari segi kecepatan, mudahnya digunakan oleh user, dan aman! Jika aplikasi desktop berharga 125jt, maka aplikasi web yang setara fungsinya bisa 500jt, atau bahkan lebih mahal lagi!
  2. Aplikasi web yang diakses melalui Internet, harus tahan terhadap SERANGAN HACKER dari seluruh dunia! Menyimpan data perusahaan yang bisa diakses dari Internet harus dijaga dengan benar, dan semakin repot urusannya. Kita harus lihai mengkonfigurasi server agar tidak bisa ditembus orang. Menembus server dan database tidak harus melalui aplikasi yang dibuat, tetapi bisa melalui celah yang penyedia sistem pun tidak sadar akan adanya celah tersebut.
  3. Aplikasi web TERBATAS pada hal-hal yang dibolehkan oleh web browser. Web browser aslinya hanyalah penampil teks yang diformat dalam bahasa HTML. Kemampuan yang di atas itu memerlukan tambahan komponen, seperti JavaScript dan CSS. Karena kemampuan komponen yang berjalan di sisi user juga terbatas, maka pembuat aplikasi web menggunakan pemrograman di sisi server (server side scripting) seperti ASP dan PHP. Tetapi, semua hasil komponen-komponen tersebut haruslah dimengerti oleh web browser yang sejatinya hanya berupa file teks 'biasa' yang bisa dibuka / ditampilkan 'source' nya.
  4. Aplikasi web lebih REPOT MAINTENANCENYA. Dari segi aplikasinya, aplikasi web adanya di server. Kalaupun kita punya copy nya di local, kadang jadi nggak PD (convidence) karena yang running kan yang di server. Jadi kalau mau modifikasi, download dulu yang dari server :)
    Tetapi ini bisa diatasi dengan metode versioning yang bagus, dan tentu ini bukan hal yang sederhana dan murah!
    Kalau aplikasinya sudah canggih dan dikerjakan oleh team sehingga hanya ada di server, petugas backup lah andalannya. Soal backup ini gampang-gampang-susah, karena bingungnya pas mau restore :)
  5. Pada aplikasi web, databasenya di Internet. Kalau mampu mengupayakan database server sendiri yang ditaruh di kantor, mungkin lebih sederhana karena bisa diakses secara local (hanya perlu mengelola fasilitas datacenter sendiri :), dan yang ini bukan kerjaan non professional). Kalau database ditaruh di server orang (host), maka ketergantungan mulai muncul, seperti harus bayar biaya rutin, backup, dll. Yang repot kalau terjadi masalah, misalnya data tidak bisa diakses (mungkin ada problem koneksi ke server atau soal jaringan di datacenter dll), meresolved masalah ini memerlukan waktu yang lebih lama karena harus koordinasi dengan host dan sebagainya.

Well, kok jadi menakutkan ya membuat aplikasi web?

Ya tidak juga, banyak orang yang melakukannya kok, dan "sudah zamannya". Asal anda mampu saja mengatasi disadvantage di atas.

Lalu kalau masih belum mampu, nggak usah bikin aplikasi web?
Kalau saya bilang sih, lihat kepentingannya. Jika aplikasi yang ingin dibuat memang HARUS jalan di web, ya anda tidak punya pilihan, hadapi konsekwensinya.
Tetapi jika TIDAK HARUS, kenapa tidak membuat aplikasi desktop saja yang anda lebih mampu membuat dan menjaganya?

Tidak bisa dipungkiri, tools untuk membuat aplikasi desktop lebih banyak dan lebih powerful. Aplikasi yang dibuat pun hanya dibatasi oleh imaginasi (dan kemampuan anda tentunya :)

Di banyak perusahaan, walaupun IT nya sering minta aplikasi yang web (agar lebih 'keren'), sistem aplikasi yang berbasis desktop masih tetap jadi solusi. Pertimbangan utama, sepengetahuan saya, adalah budget yang terbatas.

Jadi, teman-teman yang masih membuat aplikasi desktop, tetap semangat dalam berkarya. Tidak semua harus di-web-kan, yang perlu saja. Setuju?

(sudah ditelpon suruh pulang nih, udah segitu aja dulu ya...)

2 komentar:

Karmani Soekarto mengatakan...

Skr aku baru sadar klo MS Access itu dpt digunakan menurut apa yg kita mau dan sepertinya tidak semua orang menguasai program yg disediakan oleh MS Office tsb. Aku bangga dapat menguasai Access setelah baca artikel ini, sebelumnya agak dikit minder klo orang bicara ttg data base Oracle dan data base lainnya, krn aku tidsk memiliki latar belakang pendidikan komputer, belajar sendiri krn tuntutan pekerjaan, bgmn sgar lebih mudah. Krn Access mampu memenuhi kebutuhanku spt apa yg kumau, semua tergantung kita sendiri mau membuat apa dan bagaimana.
Dulu aku bekerja di Oil and Gas Coy, saat pindah di Bag Pajak 1989 aku tertantang membuat SSP Surat Setoran Pajak PPN sebanyak 150 - 200 dari sekian banyak Faktur Pajak dari banyaknya lokal vendor, utk disetor ke Kas Negara dalam waktu yg sangat sempit, saat itu Oil and Gas baru ditunjuk sbg wajib pungut PPN. Belum lagi membuat Bukti Potong PPh23 yang swalnya diketik satu persatu, kepada Vendor terhadap pembayaran jasa mereka. Tentu saja aku kelabakan, tidak mungkin menggunakan SSP yg disertakan Faktur Pajak krn kesalahan tulis dan tanggal setor yg tidak sama pasti menimbulkan coretan yg tentu saja tidak diperbolehkan oleh Bank Persepsi. Bagaimana membuat program satu SSP PPN terdiri dari 6 rangkap yang masing2 diperuntukkan menurut kebutuhan yg sdh ditetapkan oleh Kantor Pajak dan Pertamina, terdiri dari beberapa Faktur Pajak utk satu Vendor. Mulanya aku membuat program dari DataTrive dg cara menulis program spt ketika Programer dulu menulis program RPRSYS, sekaligus sambil belajar..
Krn saat data base yg ada di pasaran masih Data Base III smtr MS Access belum lahir.
Aku memahami krn pernah di Bagian Payroll saat hrs membantu System Analyst dan Programer utk membuat program Payroll System RPRSYS dan mentest programnya, disertai input Data utk 6 masa bulan dari Juni 1982 spi dengan Oktober 1982, Nov 1982 hrs sdh Live Run menyiapkan gaji 2200 karyawan dg Payroll System RPRSYS yg baru, sebelum Live Run program hrs dilakukan Paralell Run 5 bulan, data Juni - Okt antara Program Payroll System Sewa dan Payroll System RPRSYS. Hasilnya hrs sama. Dari Juni 1982 - Nov 1982 benar2 menguras energy semua yg terlibat baik Programer, System Analyst dan karyawan Payroll yg terdiri dari 3 orang. Journal entry payroll system hrs bisa masuk secara interface ke program accounting system IPAS 100 Integrated Petroleum Accounting System yg juga baru menggantikan Petroleum Accounting System 76. Pengalaman paralel run sangat mengesankan, membuat aku mengerti selama 3 minggu bekerja di Singapore yg tak pernah melihat sinar matahari krn berangkat jam 9 pulang jam 2 pagi mengejar Nov 1982 Live Run di Balikpapan yg hrs berhasil gajian Nov 1982 dg program Payroll System RPRSYS yg baru, sementara sistem sewa dari ACS Asian Cumputer Service di Singapore dihentikan.1

Karmani Soekarto mengatakan...

Setelah aku tidak lagi di bag Pajak di tahun 1996, di mana Program PPN diteruskan oleh mantan anak buahku di Payroll dulu atas bimbinganku. Program ini kalau tidak salah digunakan selama lebih 15 tahun. Krn saat itu IPAS 100 spi dg Accounting 2000 Oracle blm tersedia program PPN yg hrs dibuat terintergrasi.
Di bagian seksi lain ini Access aku kenali dan aku pelajari dan kugunakan utk analisa data accounting terutama utk pinjaman karyawan, Houding Allowance Advance, Housing Ownership Plan dan Car Ownership Plan, sambil kupersiapkan Program PPN dg menggunakan MS Access yang sdh semakin gampang dg sistem Windows sehingga tidak perlu menulis program lagi termasuk mengintegrasikan Word dan Excell manakala nanti aku ingin bekerja sesudah pensiun yg tinggal menunggu waktu. Ceritanya aku menguasai MS Access sepanjang berhubungan dengan data keuangan.
Maret 2001 aku pensiun, rehat.
September 2003 aku mulai bekerja lagi di Drilling Work Over Coy di Bagian Pajak, ternyata MS Access masih cukup memadai utk digunakan sbg tool spi dg 2005.
Th 2005 aku pindah di Oil and Gas seperti ketika aku belum pensiun smtr program PPN yg sdh jadi tinggal merubah sedikit saja utk keperluan sbg Wajib Pungut PPN.
Aku dapat bekerja lagi selama 4 tahun utk menambah pundi2 spi 200Jt dengan MS Access ini.
Tahun 2009 bulan Oktober aku pensiun lagi krn faktor U, 65 th, Pertamina yg tidak membolehkan kontrak diperpanjang kecuali Out Sourcing yg aku kurang sreg.
Kini aku membuka lagi MS Access dg pertanyaan apakah MS Access dapat digunakan sbg progran berbasis Web, kmdn menemukan artikel ini. Terpintas di pikiranku utk membuat program Data Base Access Desk Top atau Data Base berbasis Web utk keperluan yg masih dalam angan2ku. Terima kasih atas artikel yang ditulis oleh bpk Haer Talib ini, smg menambah wawasan anda dan tulisan memberikan motivasi anda yg ingin menulus prigram dengab Data Base Access. Salam 2